Sabtu, 16 November 2013

Terjadinya Pemberontakan APRA di Bandung

Setelah sebelumnya melakukan pembunuhan besar-besaran atas 40.000 orang di Sulawesi Selatan, Westerling kembali melakukan pembantaian—kali ini di Jawa Barat. Dengan kekuatan sekitar 800 orang tentara, Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di bawah pimpinan Kapten Raymond Piere Westerling melakukan teror berdarah di Bandung. Peristiwa yang kemudian disebut Pemberontakan APRA Bandung itu terjadi pada 23 Januari 1950.

Sebelumnya, pada November 1949, dinas rahasia militer Belanda telah menerima laporan bahwa Westerling mendirikan organisasi rahasia yang memiliki sekitar 500.000 tentara. Laporan yang diterima Inspektur Polisi Belanda J.M. Verburgh pada 8 Desember 1949 menyebutkan bahwa nama organisasi bentukan Westerling itu adalah “Ratu Adil Persatuan Indonesia” (RAPI), dan memiliki satuan bersenjata yang dinamakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

Pada 5 Desember malam, sekitar pukul 20.00, Westerling menghubungi Letnan Jenderal Buurman van Vreeden, Panglima Tertinggi Tentara Belanda, pengganti Letnan Jenderal Spoor, dan menyatakan ia berencana melakukan kudeta terhadap pemerintahan Soekarno. Jenderal van Vreeden memperingatkan Westerling agar tidak melakukan tindakan tersebut, tapi dia tidak segera memerintahkan penangkapan Westerling.

Satu bulan kemudian, pada 5 Januari 1950, Westerling mengirim ultimatum kepada pemerintah RIS yang isinya adalah tuntutan agar Pemerintah RIS menghargai negara-negara bagian, terutama Negara Pasundan, dan mengakui APRA sebagai tentara Pasundan.

Ultimatum itu tidak ditanggapi. Lalu Westerling pun melakukan upaya kudetanya. Bersama anak buahnya, Westerling memasuki Bandung dan menembak mati semua anggota TNI yang mereka temukan. Sementara Westerling menyerang Bandung, sejumlah anggota pasukan yang dipimpin Sersan Meijer menuju Jakarta untuk menangkap Presiden Soekarno, dan menduduki gedung-gedung pemerintahan.

Aksi militer yang dilancarkan Westerling bersama APRA tersebut menjadi headline media massa di seluruh dunia. Hugh Laming, koresponden Reuters, yang pertama kali melansir peristiwa itu pada 23 Januari 1950. Osmar White, jurnalis Australia dari koran Melbourne Sun menulis di halaman depan, “Suatu krisis berskala internasional telah melanda Asia Tenggara.”

Duta Besar Belanda di Amerika Serikat, van Kleffens, menyatakan bahwa serangan Westerling itu merupakan “de zwarte hand van Nederland” (tangan hitam dari Belanda). Sementara Amerika sendiri menganggap bahwa aksi itu merupakan cara licik Belanda dalam mengelabui Indonesia. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar